My Reflection

January 1, 2009

Belajar Matematika, Tak Sekedar Didengar.

Filed under: Mirror

Nasehat sederhana untuk kalian,murid muridku tercinta

Tanpa bermaksud mendiskriminasikan mata pelajaran lain, tulisan ini ibu buat untuk kalian baca.

Jadilah pendengar yang baik…kalimat itu mungkin sering kalian dengar  ya? Berbicara dengan pendengar yang baik adalah sangat menyenangkan. Semua orang ingin didengarkan kata katanya. Tapi tidak demikian ketika kalian ada di kelas matematika.

Anak anak, ketika kalian memasuki kelas dan masuk jam pelajaran matematika, tentunya sudah ada  itikad bulat bahwa pada hari itu harus ada yang dapat kalian bawa ke rumah. Ada ilmu yang harus kalian peroleh dari ibu.

Memandang ke depan, duduk manis, dengan alat tulis dan buku di atas meja, itu adalah syarat utama/mendasar belajar dengan ibu. Matematika tidak bisa cukup didengar, tak bisa hanya dilihat, atau tak cukup hanya menyalin saja! Kalian harus memadukan KETIGA-nya.

Pernahkah ibu menjelaskan materi dengan cukup duduk di kursi guru? belum pernah bukan? yup, ibu juga tak akan dapat menyampaikan sesuatu tentang matematika hanya dengan duduk. Ibu harus berdiri memegang kapur…! bicara dengan penggaris dan busur ditangan, atau menjelaskan dengan alat peraga!

Nah, kalian pun sama.Memadukan tiga hal, melihat, mendengar dan mencatat! Jadi ibu tak mau kamu hanya jadi pendengar yang baik, yang mendengarkan semua perkataan ibu dengan menunduk..tapi ibu ingin kalian mendengarkan perkataan ibu, melihat apa yang ibu tulis, dan mencatat semua hal dianggap penting.

Anak anak, tak ada yang lebih membanggakan ibu, kecuali kalian mengerti, memahami, dan menyukai matematika… 

 

 

 

June 16, 2008

TIGA BELAS;” BULAN KE-13″

Filed under: Mirror

Jika menyebut angka 13, biasanya kita selalu menghubungkannya dengan angka sial. Banyak orang yang biasanya menghindari angka ini. Lihat saja penomoran lantai pada Gedung-gedung tinggi, biasanya setelah lantai 12 langsung disebut dengan 12B atau langsung loncat menjadi 14. Rumahku juga kebetulan nomer 11 a, padahal aslinya kalau melihat pola penomorannya, dimana barisan rumahku adalah nomor ganjil, maka rumahku sebenarnya nomer 13!

Mungkin salah satu alasan (menurut sebuah sumber) adalah karena manusia memandang angka 12 sebagai angka sempurna, karena terkait dengan banyak peristiwa seperti dalam setahun terdapat 12 bulan, sistim perbintangan juga mengenal 12 bintang, siang dan malam dibagi menjadi 12 jam. Angka 13 menjadi angka sial karena 1 angka di atas angka sempurna. Sesuatu yang dianggap melebihi angka sempurna justru dipandang dapat memunculkan kegagalan. Pandangan lain juga menyebutkan bahwa angka 13 jika dijumlahkan (1 dan 3) hasilnya menjadi 4, yang dalam bahasa Cina diartikan sebagai mati.

By the way, angka 13 justru menjadi angka yang membawa keberuntungan bagi sebagian kecil kelompok masyarakat, dalam hal ini PNS ! Betapa tidak, 13 adalah “bulan” yang sangat ditunggu tunggu. Karena di “bulan ke-13″ ini PNS mendapatkan “bonus”, berupa tambahan penghasilan yang besarnya satu kali gaji, tanpa potongan.So, lihat saja wajah para PNS setelah mendapat “Bonus 13″, pasti bercahaya!! Tak terkecuali wajah sahabat sahabatku….
Hayu ahh ka pasar baru….!

February 11, 2008

Solusi Memanage Budget

Filed under: Mirror

Pasar Recok; Sebuah Solusi

potret pasar

Letaknya menyebar di tiap pelosok gang. Butuh waktu 20 menit jalan kaki menuju kesana. Ada lebih kurang 1,5 km arah utara kompleks rumahku…

Entah sejak kapan awal berdirinya. Yang aku tahu, sejak kepindahanku ke sini, 12 tahun yang lalu, pasar ini belum ada.Tempatnya sungguh tak beraturan, tidak seperti umumnya pasar, pedagang yang berjualan hanya memanfaatkan badan jalan. Bayangkan, lebar jalan yang hanya kurang dari 2 meter, setengahnya digunakan untuk menyimpan gerobak. Jika ada pembeli didepannya, maka sisa lebar jalan itu tinggal setengah meteran, dan itu digunakan untuk lalu lalang orang berjalan, dua arah pula. Parahnya, yang lalu lalang itu kebanyakan ibu ibu yang bobotnya rata rata 60 kg, kelas berat! Belum lagi kalau mereka membawa anak atau cucu…..wah!!!

Istilah pasar recok entah siapa yang memulainya, mungkin agak asing terdengar, padahal pasar itu istilahnya sama saja dengan pasar tumpah atau pasar pagi. Disebut recok mungkin karena pembelinya kebanyakan ibu-ibu yang rarecok ( berisik ).

Yang dijual di sana pada mulanya hanya sebatas sayur-sayuran, ikan, dan buah-buahan. Itu pun dengan jenis yang amat terbatas. Tapi kini, seiring dengan meningkatnya pembeli, jenis barang yang dijual beraneka ragam, sangat lengkap! sayur-sayuran, buah-buahan import, kaset-kaset, vcd, baju, sepatu, sandal dan lain-lain.Ketika harga-harga melambung tinggi, tentu saja ibu-ibu yang cerdas harus pandai-pandai mengatur keuangan. Uang belanja yang besarannya tidak naik harus menyesuaikan dengan harga-harga yang naik, ini harusnya berbanding lurus.

Pasar recok mungkin bisa jadi jalan keluar, pasar ini menawarkan harga miring dengan kualitas yang tetap terjamin. Jadi jangan salah, pasar recok kini bukan lagi milik rakyat biasa, bukan lagi milik ibu-ibu rumahtangga biasa, tapi sudah jadi milik ibu-ibu borju , ibu- ibu yang turun dari mobil mewahnya. Di hampir setiap Sabtu dan Minggu, di pasar recok, banyak mobil-mobil yang diparkir, mendampingi motor dan sepeda yang memang dari dulu sudah langganan parkir disana.

Demi menjaga stabilitas keuangan, agar tak terjadi defisit diakhir bulan, berdesak desakan sebentar rasanya tak akan membuat badan pagal, toh disitulah seninya….
Tunggu apa lagi, mari ramai ramai kunjungi Pasar Recok… !

August 30, 2007

Ayam Selingkuh

Filed under: Mirror

Ayam Selingkuh
Bukan cuma manusia yang bisa selingkuh, ternyata ayam juga mampu….

August 6, 2007

Puisi dari anak anak 3i

Filed under: Mirror

Tadi pagi, beres beres loker, di buku Legger tahun ajaran 2004/2005 terselip beberapa lembar kertas, bahkan kartu.Ternyata itu adalah kertas kertas ucapan ultah dulu,ketika anak anak 3i merayakannya di kelas. Salah satu kertas itu adalah puisi yang ditulis Taufik Hidayat dan dibacakan Ussy..mereka adalah anak anak terbaik di 3i. Aku juga ingat, aku menangis ketika puisi itu dibaca.. Ini puisinya..

Guruku

Guru, dalam nasehatmu, kau bagai ibu
Guru, dengan didikanmu bagaikan ayah
Dua dalam satu bagiku
Itulah Engkau Guruku..

Bidang studimu olah otakku
Matematika, sesulit apapun engkau
bila Dirimu yang ada dihadapanku
Aku tak kan pernah ragu

Bu, dalam tanggung jawabmu
Pernahkah Engkau lelah? Kurasa tidak
Bu, dalam mengemban nama guru
Pernahkah engkau mengeluh? Kurasa tidak pula
Kenapa aku tahu? Terlihat dari senyumanmu
disaat Engkau mengajariku

Bedanya dirimu, tak pernah ku lihat kau marah
Lebihnya pikirku, perhatianmu selalu tercurah
Andai ada 1001 Dini Rosdiani..
Matematika tak kan ditakuti..

Bu, walau ilmuku belum seberapa
Terima kasih atas segalanya

Tak terasa..air mataku kembali mengalir…makasih anak anak..
Semoga kalian sukses selalu
Ibu tulis ini di Blog biar bisa kalian baca suatu waktu….

June 2, 2006

Kesabaran Perempuan

Filed under: Mirror

Comments (0)

February 1, 2006

rindu-ku

Filed under: All About M3, Mirror

Kabogoh Abdi

Tiga puluh satu desember…

Pernah berfikir tuk pergi
dan terlintas tinggalkan kau sendiri
sempat ingin sudahi sampai disini
coba lari dari kenyataan

tapi ku tak bisa…jauh..jauh…darimu
dan tak bisa..jauh …jauh ..darimu…

January 24, 2006

Mirror

Filed under: Mirror

aku






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ben de Groot